Manusia sebagai makhluk sosial sudah sewajarnya berinteraksi dengan manusia lain selama hidupnya. Tentunya, interaksi yang diharapkan di sini adalah interaksi yang saling menguntungkan dan tetap terpelihara. Interaksi yang tetap terpelihara akan membuat kita memiliki network persahabatan yang besar.
Bukankah kita mengetahui ada pepatah berbunyi sebagai berikut:
seribu teman masih terlalu sedikit
satu musuh terlalu banyak
Selama saya menimba ilmu di bawah naungan Yayasan Taruna Bakti, yaitu mulai dari Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas, saya mendapatkan teman dekat yang…. benar-benar dekat. Entah mengapa, hubungan itu tetap terpelihara hingga sekarang, hingga masing-masing dari kami berpisah untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Walaupun berpisah secara fisik, semoga hati kita tetap bersama.
Saya perkenalkan siapa saja mereka…
Dari kiri ke kanan: Baharuddin Aziz, Aozora Insan Kamil, Azalea Fisitania, Vinni Nichianishi
- Baharuddin Aziz
Saya sering memanggilnya Baha atau Abah, sedangkan Ibunya memang-gilnya Aziz. Baha adalah teman saya sejak SMP. Kami dipersatukan (hah?) oleh keadaan saat kami menjadi editorial The 30th Argabestari (buku tahunan Keluarga Besar Taruna Bakti).
Sebuah pekerjaan yang tak ringan ketika kami menyusun Argabestari tersebut. Sejak itu pula tali persahabatan di antara kami berdua mulai terbentuk. Kami sama-sama menyenangi apa itu yang namanya komputer. Setelah lulus dari SMP, kami masih diberikan kesempatan untuk menempuh jenjang SMA bersama-sama dan kembali menjadi editorial The 32nd Argabestari, The 33rd Argabestari, dan The 34th Argabestari.
Di SMA, kegiatan kami di bidang komputer tidak terlalu berkembang dibandingkan dengan di SMP. Sedikit intermezo, kami belajar pemrograman mulai dari Visual Basic, Hypertext Mark-Up Languange, dan sebagainya. Hingga suatu saat, Baha mencoba kemampuan pemrogramannya dengan membuat virus yang sederhana. Anehnya, virus tersebut mengenai komputernya sendiri akibat tak sengaja tereksekusi. Alhasil, ia harus memperbaiki sistem operasi di komputernya.
Saya sudah kenal baik dengan keluarganya, terutama ibu-bapaknya dan kakak perempuannya. Entah mengapa, kakak laki-lakinya sulit sekali di dekati… Saya sering sekali bermain ke rumahnya, di Antapani. Saya ke sana bila ada kerja kelompok atau hanya sekadar berkumpul dengan sahabat saya yang lain. Hal ini dikarenakan rumah Baha letaknya relatif di tengah Kota Bandung. Benar-benar tempat yang ideal untuk berkumpul karena jarak dari Utara dan Selatan Kota Bandung relatif sama. (Bayangkan bila tempat berkumpul di rumah Ican – utara Kota Bandung – kasihan sekali saya yang tinggal di selatan Kota Bandung).
Yang paling saya kagumi dari Baha adalah, kemampuannya untuk membuat segala sesuatu terorganisasi dengan baik. Bila kalian ada kesempatan, cobalah bandingkan struktur folder dalam harddisk laptop saya dengan laptop Baha. Wah ternyata data-data saya seperti kapal pecah, tidak terorganisasi hingga saya selalu memanfaatkan Windows Search untuk mencari data saya. Sedangkan Baha, luar biasa terorganisasi. Perlu dicontoh!!
Setelah masa SMA selesai, kami diberi kesempatan yang kedua kalinya untuk terus bersama karena kami berdua diterima menjadi mahasiswa di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung. Doakan kami berdua dalam menempuh jenjang perguruan tinggi!! Tunggu karya-karya kami selanjutnya.
Uraian lebih lengkap tentang Baha akan saya tulis di blog ini pada lain kesempatan. - Aozora Insan Kamil
Aozora Insan Kamil atau sering dipanggil Ican, seorang sahabatku yang luar biasa heboh, penuh energi, dan hampir semua temannya kaget ketika mendengar Ican tak masuk sekolah karena sakit (haduh… padahal Ican juga manusia).
Saya bertemu Ican pertama kali ketika psikotest SMP Taruna Bakti. Ada yang unik darinya sekaligus membuat saya kesal. Ketika murid-murid lain berpusing-pusing ria, Ican justru ketawa-ketawa tidak jelas. Perkiraanku tepat, Ia segera terkenal dalam satu angkatan karena suaranya sangat keras. Jadi, jikalau butuh pengeras suara untuk memberi pengumuman, panggilah Ican.
Tetapi jangan bad thinking dulu. Suaranya ketika menyanyikan sebuah lagu benar-benar saya acungi jempol!. Ia juga menjadi muadzin (orang yang mengumandangkan adzan) setiap hari Jumat di Taruna Bakti. Sudah enam tahun ia berprofesi sebagai muadzin. Entah siapa yang menggantikannya kelak.
Kegiatan yang memberi waktu bagi saya dan Ican untuk bersama adalah ketika kami berdua dikarantina oleh Institut Teknologi Bandung dalam pelatihan OSN selama 1 bulan (walaupun tak berturut-turut). Saya mewakili kota Bandung dalam bidang matematika sedangkan Ican dalam bidang fisika.
Saat karantina, kami berdua bertemu anak-anak pintar lain dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Luar biasa, hingga sekarang kami tetap menjalin hubungan dengan mereka. Sebagian dari mereka berkumpul kembali setelah menjadi mahasiswa di Institut Teknologi Bandung. Inilah contoh network persahabatan.
Di tingkat SMA, saya masih sekelas dengan Ican. Ia juga menjadi bagian dari editorial Argabestari. Dia juga menjadi ketua OSIS SMA Taruna Bakti periode 2009-2010. Pokoknya Ican sudah teruji menjalankan berbagai macam organisasi.
Walaupun Ican tidak diterima perguruan tinggi melalui SNMPTN Jalur Undangan, Ia tetap tidak patah semangat berusaha mengejar SNMPTN Jalur Tertulis. Dua minggu kurang ia manfaatkan untuk belajar. Alhamdulillah, sekarang Ia diterima di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung, seperti yang ia cita-citakan. Itu berarti, kami tetap bisa bersama sebagai keluarga ITB.
Uraian lebih lengkap tentang Ican akan saya tulis di blog ini pada lain kesempatan. - Azalea Fisitania
Azal, demikian aku memanggilnya. Ia sudah terlebih dahulu bersahabat dengan Baha karena sejak TK mereka berada dalam naungan Yayasan Taruna Bakti. Sedangkan saya dan Ican adalah pendatang baru.
Pertama kali ia menampakan diri di depan saya adalah saat pelajaran bahasa Indonesia. Guru bahasa Indonesia waktu itu adalah Bu Sri Suhartini. Entah mengapa, tiba-tiba Bu Sri membahas persatuan anggota kelas. Ujung-ujungnya, Azal disuruh berdiri di depan kelas (karena dianggap anggota kelas yang sering diejek dan ditelantarkan). Di depan kelas Azal menangis. Hal ini menyebabkan saya tidak tega. Akhirnya saya memutuskan untuk mulai memahami isi hatinya.
Ternyata Azal adalah seorang seniman yang benar-benar berkembang. Tangannya benar-benar halus memainkan kuas, pensil, dan media kreativitas lainnya. Lebih spesifik lagi, ia senang menggambar Anime / Manga (kartun Jepang). Beberapa kali ia menjadi juara dalam lomba seni.
Saat SMA, Azal masuk SMA yang sama denganku. Tanggal 20 Januari 2009, Azal memberikan kesempatan kepadaku untuk menjadi kekasihnya hingga saat ini. Semoga hubungan tahap duaku dengannya terjalin dengan baik hingga kami melangkah ke tahap selanjutnya.
Saya menyuruhnya mendalami seni digital di komputer dengan memakai program-program seperti Adobe® Photoshop ®, Adobe® Illustrator®, dan CorelDraw® Graphics Suite. Untuk lebih mengembangkan bakatnya di dunia digital, saya dengan penuh kesetiaan menyisihkan cukup banyak tabungan saya untuk membelikannya tablet Wacom yang harganya – bagi saya – tidak murah. Tablet itu saya persembahkan kepadanya sebagai hadiah satu tahun hubunganku dengannya.
Ia sangat tertarik menggunakan tablet itu dan terlihat antusias ketika mengetahui Wacom LCD Tablet yang harganya 25 kali lipat dari tablet yang saya belikan. Hahaha… kapan ya saya bisa memberikan benda itu?
Azal sekarang berkuliah di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung. Itu berarti, satu fakultas dengan saya dan Baha. Walaupun sebenarnya Azal (katanya) salah jurusan karena ia ingin masuk FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain), saya tetap memberinya semangat, mengajarinya, dan menemaninya di STEI. Saya meyakinkan ia bahwa informatika dan seni dapat dikolaborasikan menjadi satu.
Uraian lebih lengkap tentang Azal akan saya tulis di blog ini pada lain kesempatan. - Vinni Nichianishi
Vinni merupakan teman perempuan yang cukup dekat dengan Azal. Saya lebih mengenal Vinni saat di SMA karena menjadi satu kelas dengan ia dekat dengan Azal. Walaupun saya tak terlalu banyak tahu tentang Vinni, saya akan uraiakan secara singkat.
Bagiku, Vinni cukup pintar berbahasa Jepang dibandingku. Terkadang saya dan Azal suka berdiskusi mengenai bahasa Jepang di kelas. Cita-citanya ingin menjadi dokter dan sekarang ia diterima menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran.
Uraian lebih lengkap tentang Vinni akan saya tulis di blog ini pada lain kesempatan.
Masih ada beberapa sahabat saya yang belum saya deskripsikan secara singkat. Mereka antara lain Chikita, Citra, Dito, Aria, dan siapa lagi ya??? Hehehe… Tunggu saja…
Bersambung….




0 comments:
Post a Comment